Makam Raja-raja Majapahit

makam raja majapahit

Seperti diketahui kerajaan Majapahit mulai berdiri pada tahun 1294 M, sebagai penerus dari kerajaan Singasari. Jika kerajaan Singasari berpusat di sebelah utara kota Malang, maka kerajaan Majapahit berpusat di dekat kota Mojokerto. Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya ketika diperintah oleh raja Hayam Wuruk (generasi ke-3) yang berkuasa antara tahu 1350 – 1389 M; dalam pemerintahannya ia di dampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Kebesaran Majapahit mulai surut setelah wafat Hayam Wuruk.

Raja-raja Majapahit juga memeluk agama Hindu atau Buddha walaupun kadarnya tentu tidak sama dengan pemeluk agama tersebut di India. Raja Majapahit dapat mengikuti dua agama sekaligus yaitu Siwa dan Buddha: sebagai akibatnya maka ketika wafat mereka dipatungkan dalam dua wujud area, satu Siwa dan satu Buddha.

Kemudian masing-masing area itu ditempatkan pada candi yang berbeda. Abu jenazah sang raja sudah ditaburkan ke laut atau sungai, tetapi tradisi Jawa yang asli masih menghormati roh nenek moyang di kuburan-kuburan lalu beranggapan bahwa candi-candi itu menjadi kuburan raja atau sekurang-kurangnya tempat abu jenazah raja di simpan.

Di sini terjadilah dua kepercayaan bersamaan. sebagian orang memuja almarhum raja di candi-candi dan sebagian orang lagi memuja dewa-dewa Hindu atau sang Buddha juga di candi yang sama. Lebih jauh lagi, arwah sang raja dianggap sudah kembali ke alam kedewaan, jadi kalau orang memuja dewa maka hal ini sama saja dengan memuja almarhum sang raja.

Makam Raja-Raja Majapahit

Karena anggapan umum mengatakan bahwa candi adalah makam, maka kitab Nagarakertagama yang ditulis tahun 1365 M menyebutkan sejumlah tempat sebagai candi-makam raja-raja yang jumlahnya ada 21 buah (pada pupuh 73) dan enam buah makam rani atau permaisuri (pada pupuh 74).

Jumlah ini meliputi keluarga raja sejak masa Rajasa (Ken Arok) hingga ke nenek raja Rayam Wuruk. Candi makam ini umumnya sudah rusak dan tinggal beberapa buah yang masih berdiri. Demikian keterangan Prapanca yang menulis kitab Nagarakertagama tersebut. Pada pupuh 40 – 49 ada keterangan tentang nama candi dan raja yang dianggap “dimakamkan” di dalamnya.

Bangunan itu disebut sudharmma dan keterangannya demikian:

  1. Kegenengan, sudharmma bagi Rajasa sebagai Siwa.
  2. Kidal, sudharmma bagi Anusapati sebagai Siwa.
  3. Jago (Tumpang), sudharmma bagi Wisnuwarddhana sebagai Buddha.
  4. Waleri, sudharmma bagi Wisnuwarddhana sebagai Siwa.
  5. Wengker, sudharmma bagi Narasinghamurti sebagai Buddha.
  6. Kumeper, sudharmma bagi Narasinghamurti sebagai Siwa.
  7. Sagala, sudharmma bagi Kertanagara sebagai Jina.
  8. Mireng, sudharmma bagi Dyah Lembu Tal sebagai Buddha.
  9. Antahpura, sudharmma bagi Wijaya (Kertarajasa) sebagai Buddha.
  10. Simping, sudharmma bagi Wijaya sebagai Siwa.
  11. Sila Petak, sudharmma bagi Wijaya Jayanagara sebagai Wisnu.
  12. Sukalila, sudharmma bagi Jayanagara sebagai Buddha.
  13. Jajawi, sudharmma bagi Kertanagara sebagai Siwa – Buddha.
  14. Prapyaparamitapuri, sudharmma bagi Rajapami (isteri Wijaya).
  15.  Bayalangu, sudharmma bagi rajapatni juga.

Dari sekian bangunan sudharmma tersebut hanya Antahpura yang ada di pusat Majapahit, Candi-candi yang dibangun dalam abad ke 13 dan 14 M ini dalam abad ke-20 masih ada yang berdiri, antara lain: Jago, Kidal, Jawi dan Bayalangu.

Sesudah tahun 1365 M nama-nama sudharmma bagi para raja disebut dalam kitab Pararaton (selesai ditulis tahun 1613M). Raja Hayam Wuruk, saudara-saudaranya serta keturunannya yang menjadi raja dan pangeran Majapahit semuanya ada 38 orang; Pararaton dapat menyebut 22 nama dengan tempat sudharmmanya.

Makam Troloyo

Makam Troloyo terletak di Dukuh Sidodadi, Kelurahan Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Makam ini dapat dikatakan sangat dekat dengan pusat kota Majapahit. Beberapa nisan yang tua bertuliskan angka tahun Jawa Kuno, ada angka tahun 1265 S (= 1343 M) pada sebuah nisan, tetapi kemudian nisan ini dipindahkan ke Museum Mojokerto karena letaknya sudah berserakan. Nisan lainnya berangka tahun 1279 S (= 1357 M) dan 1298 S (= 1376 M).

nisan di makam troloyo
Sebuah nisan di makam Troloyo. Di bagian alas ada angka tahun Jawa Kuna 1279 Saka atau 1357M

Karena agama Islam sudah masuk ke Majapahit, maka ciri-ciri nisannya juga serupa dengan nisan pada makam Islam lainnya, satu atau dua sisinya bertuliskan aksara Arab. Tulisan ini tidak menyebut nama orang yang dimakamkan. Karena pengaruh Jawa-Hindu masih ada, maka ada pula nisan Islam yang di satu sisinya diberi angka Jawa Kuno seperti yang disebutkan di atas tadi.

Di antara raja atau ratu Majapahit ternyata ada yang dimakamkan di Troloyo. Di sana ada sebuah makam yang bercungkup indah dan oleh penduduk dipercaya sebagai makam Ratu Kencanawungu. Menurut para pakar sejarah, Kencanawungu ini identik dengan Dewi Suhita yang memerintah di Majapahit tahun 1429 – 1447M. Dalam kitab Pararaton namanya dikenal sebagai Prabbu Stri.

Ratu ini adalah anak kedua dari Wikramawardhana yang memerintah tahun 1389 – 1429M. Suhita mempunyai kakak bernama Bhre Tumapel atau Bhre Hyang Wekas-ing Sukha, tetapi wafat ketika masih kecil : ia juga mempunyai adik bernama Dyah Kertawijaya yang memerintah di Majapahit tahun 1447 -1451M.


Artikel Khazanah lain yang menarik untuk dibaca:


Menurut cerita rakyat yang dipentaskan sebagai lakon Ketoprak, Kencanawungu mempunyai Adipati di Blambangan (Banyuwangi) yang akan memberontak dan bahkan ingin memperisteri Kencanawungu. Ia bernama Minak Jingga, seorang sakti yang mempunyai pusaka gada “wesi kuning”. Sang ratu membuat sayembara, siapa pun yang mampu mengalahkan Minak Jingga akan diangkat jadi suami dan sekaligus menjadi raja Majapahit. Alkisah, pemuda Damar Wulan berhasil mengalahkan Minak Jingga. Sebelum tiba di Majapahit ia dihalangi oleh Seta dan Kumitir, tetapi keduanya dapat disingkirkan. Majapahit aman dan Kencanawungu berbahagia.

Makam Lain

Beberapa makam tua ada di sekitar kota Majapahit. Semuanya ada di dalam wilayah Kecamatan Trowulan. Ada makam Putri Cempa yang terletak di sebelah timur-laut Kolam Segaran. Nama Putri Cempa mengingatkan pada gadis asal kerajaan Melayu yang bernama Dara Petak dan dibawa ke Singasari sekitar tahun 1285M sebagai ikatan persekutuan. Beberapa makam di sini ukurannya luar biasa besarnya. Ada lagi makam Kubur Panjang, kubur Panggung dan Setinggil yang agaknya dari masa sesudah keruntuhan kerajaan Majapahit.

Anda telah membaca artikel tentang "Makam Raja-raja Majapahit" yang telah dipublikasikan oleh Lentera Budaya. Semoga bermanfaat serta menambah wawasan dan pengetahuan. Terima kasih.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *