Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di berbagai sudut Yogyakarta terasa berbeda. Aktivitas masyarakat tidak hanya dipenuhi persiapan spiritual secara personal, tetapi juga diwujudkan melalui tradisi kolektif yang telah mengakar kuat sejak ratusan tahun lalu. Salah satu tradisi yang terus hidup dan berkembang adalah nyadran atau sadranan, sebuah ritual ziarah dan doa bersama untuk leluhur yang sarat nilai budaya, sosial, dan spiritual.
Nyadran bukan sekadar kegiatan mengunjungi makam. Di Yogyakarta, tradisi ini telah bertransformasi menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, lintas keyakinan, sekaligus medium pelestarian identitas lokal. Setiap kampung memiliki cara, makna, dan kekhasan tersendiri dalam menyelenggarakan nyadran, namun semuanya berpijak pada semangat yang sama: mengingat asal-usul, mensyukuri kehidupan, dan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.
Nyadran sebagai Warisan Budaya dan Ruang Kebersamaan
Secara historis, nyadran berasal dari tradisi masyarakat Jawa yang memadukan nilai kepercayaan lokal dengan ajaran Islam. Dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa—yang bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah—nyadran menjadi momen refleksi sebelum memasuki Ramadan.
Di Yogyakarta, nyadran berkembang melampaui ritual keagamaan. Ia menjadi sarana membangun kebersamaan sosial, mempererat hubungan antarwarga, dan bahkan memperkuat kerukunan antarumat beragama. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya lokal mampu menjadi jembatan dialog yang inklusif, tanpa menghilangkan nilai spiritual yang menjadi ruh utamanya.
Nyadran dengan Kirab Budaya di Kampung Bener
Di Kampung Bener, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, nyadran tidak dilaksanakan secara sederhana. Tradisi ini dirancang sebagai peristiwa budaya yang melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat kampung.
Kirab sebagai Pembuka Ritual
Rangkaian nyadran diawali dengan kirab budaya yang meriah. Warga berbondong-bondong mengikuti arak-arakan yang menampilkan berbagai simbol budaya Jawa. Hadir dalam kirab tersebut tokoh Punakawan yang melambangkan kebijaksanaan rakyat, Bregodo Rakyat sebagai simbol kekuatan masyarakat, serta berbagai gunungan yang terbuat dari sayuran, kolak, ketan, dan apem. Referensi lain: Gaya Hidup Jawa Kuno Yang Bertahan
Tidak ketinggalan ingkung ayam dan kelompok hadrah yang mengiringi suasana dengan lantunan shalawat. Kirab ini bukan sekadar tontonan, tetapi menjadi pernyataan identitas bersama bahwa nyadran adalah milik seluruh warga, bukan hanya kelompok tertentu.
Gotong Royong dan Filosofi Uborampe
Seluruh persiapan dilakukan secara gotong royong. Warga bersama-sama menyiapkan apem, ketan, kolak, dan berbagai uborampe lainnya. Makanan-makanan ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Apem melambangkan permohonan ampun, ketan sebagai simbol perekat persaudaraan, dan kolak menggambarkan manisnya kebersamaan.
Setelah doa bersama selesai, seluruh hidangan dinikmati bersama tanpa sekat status sosial. Inilah wujud nyata nilai egalitarian yang diwariskan melalui tradisi nyadran.
Tajuk Nilai dan Inklusivitas
Nyadran di Kampung Bener mengusung tajuk “Eling lan waspodo, donga bareng, paseduluran langgeng” yang berarti “Ingat dan waspada, doa bersama, persaudaraan abadi”. Tajuk ini bukan sekadar slogan, melainkan refleksi nilai yang benar-benar dijalankan.
Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan warga lintas agama. Mereka diajak berbaur dan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Pendekatan ini menunjukkan bahwa nyadran berfungsi sebagai ruang spiritual yang inklusif, tempat nilai kemanusiaan dan kebersamaan lebih diutamakan daripada perbedaan.
Nyadran dan Revitalisasi Identitas di Kampung Gambiran
Berbeda dengan Kampung Bener, masyarakat Kampung Gambiran, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, mengembangkan tradisi nyadran dengan pendekatan ekologis dan historis.
Penanaman Pohon Gambir sebagai Simbol Sejarah
Selain ziarah dan doa bersama, nyadran di Kampung Gambiran diisi dengan penanaman kembali pohon gambir di area Makam Gambiran. Lokasi ini diyakini sebagai petilasan leluhur kampung dan menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat. Sebagai bahan bacaan: Grand Lodge Freemasonry Dan Pengaruhnya
Penanaman gambir bukan tanpa alasan. Nama “Gambiran” sendiri berasal dari tanaman gambir yang dahulu tumbuh subur di kawasan tersebut. Dengan menghidupkan kembali tanaman ini, warga berupaya merawat ingatan kolektif tentang asal-usul kampung mereka.
Menghubungkan Generasi dan Pengetahuan Lokal
Revitalisasi tanaman gambir juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja diperkenalkan pada legenda, fungsi, dan khasiat tanaman gambir yang dikenal memiliki sifat antibiotik dan antiseptik alami.
Melalui tradisi ini, nyadran tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai media pewarisan pengetahuan lokal. Kreativitas dan inovasi generasi muda dirangsang dengan menggali kembali potensi alam dan sejarah kampung mereka sendiri.
Sadranan Agung Wotgaleh: Tradisi Besar di Sleman
Kemegahan tradisi nyadran juga tampak dalam prosesi Sadranan Agung Wotgaleh yang digelar di Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.
Kirab Ribuan Warga
Setiap bulan Ruwah, ribuan warga tumpah ruah mengikuti kirab menuju kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh dan Makam Pangeran Purbaya. Kirab ini menjadi salah satu tradisi budaya terbesar di wilayah Sleman dan selalu dinantikan masyarakat.
Prosesi ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga wujud rasa syukur menyambut Ramadan. Kehadiran ribuan warga menciptakan suasana sakral sekaligus meriah, memperlihatkan betapa kuatnya ikatan antara tradisi, sejarah, dan spiritualitas.
Ziarah dan Penghormatan kepada Pangeran Purbaya
Pusat dari Sadranan Agung Wotgaleh adalah ziarah dan doa bersama di makam Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam. Sosok Pangeran Purbaya dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah dan penyebaran nilai-nilai Islam di Jawa.
Doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan bagi leluhur, tetapi juga sebagai refleksi diri menjelang Ramadan. Masyarakat diajak untuk membersihkan hati, memperbaiki niat, dan memperkuat keimanan.
Rayahan sebagai Simbol Berkah
Prosesi sadranan diakhiri dengan rayahan, yaitu berebut gunungan hasil bumi. Tradisi ini melambangkan berkah, rasa syukur, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Masyarakat percaya bahwa hasil bumi yang didapat membawa keberkahan bagi keluarga mereka.
Rayahan juga menjadi simbol bahwa rezeki harus diperjuangkan bersama dan dibagikan secara adil, sejalan dengan nilai sosial yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.
Nyadran sebagai Cermin Kearifan Lokal Yogyakarta
Tradisi nusantara dari Kampung Bener, Gambiran, hingga Wotgaleh, terlihat jelas bahwa nyadran di Yogyakarta bukan tradisi yang stagnan. Ia terus beradaptasi dengan konteks zaman tanpa kehilangan esensi utamanya. Tradisi ini menjadi cermin kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, nyadran justru semakin relevan. Ia mengingatkan pentingnya akar budaya, nilai gotong royong, serta toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat Yogyakarta. Menjelang Ramadan, tradisi ini menjadi penanda bahwa spiritualitas tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama kebudayaan dan kemanusiaan.
Ragam tradisi nyadran di Yogyakarta menunjukkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar masa lalu, melainkan sumber nilai yang terus memberi makna bagi kehidupan hari ini dan masa depan.