Tradisi Kesenian Sisingaan Subang

kesenian sisingaan subang

Kesenian Sisingaan merupakan salah satu kesenian tradisional yang  populer di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kesenian ini mempunyai ciri khas atau identitas yaitu sepasang patung sisingaan atau binatang yang menyerupai singa.

Sejarah Singkat Kesenian Sisingaan

Tradisi Sisingaan diperkirakan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang, yakni pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812. Subang pada saat itu dikenal dengan Doble Bestuur, dan dijadikan kawasan perkebunan di bawah perusahaan P&T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden).

Pada saat Subang di bawah kekuasaan Belanda, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan lambang negara Belanda yakni crown atau mahkota kerajaan. Daerah Subang juga pernah di bawah kekuasaan Inggris (1814- 1816), yang memperkenalkan lambang negaranya yakni singa. Sehingga secara administratif daerah Subang terbagi dalam dua bagian, yakni secara politis dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.

Masyarakat Subang saat itu mendapatkan tekanan secara politis, ekonomis, sosial, dan budaya dari pihak Belanda maupun Inggris. Namun masyarakat tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan. Perlawanan tersebut tidak hanya berupa perlawanan fisik, namun juga perlawanan yang diwujudkan dalam bentuk kesenian.

Bentuk kesenian tersebut mengandung silib (yakni pembicaraan yang tidak langsung pada maksud dan tujuan), sindir (ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan), siloka (kiasan atau melambangkan), sasmita (contoh cerita yang mengandung arti atau makna).

Dengan demikian masyarakat Subang bisa mengekspresikan atau mewujudkan perasaan mereka secara terselubung, melalui sindiran, perumpamaan yang terjadi atau yang menjadi kenyataan pada saat itu. Salah satu perwujudan atau bentuk ekspresi masyarakat Subang, dengan menciptakan salah satu bentuk kesenian yang kemudian dikenal dengan nama sisingaan.

Kesenian sisingaan yang diciptakan oleh para seniman pada saat itu, sangat tepat dan jitu menggunakan sisingaan sebagai sarana/perwujudan/alat perjuangan dalam melepaskan diri dari tekanan kaum penjajah. Sementara itu pihak kaum penjajah tidak merasa disindir, tidak terusik, tetapi malah merasa bangga melihat kesenian sisingaan, karena lambang negara mereka (singa) dijadikan sebagai bentuk kesenian rakyat.

Pihak penjajah hanya memahami bahwa kesenian sisingaan merupakan karya seni basil kreativitas masyarakat secara spontan, sangat sederhana untuk sarana hiburan pada saat ada hajatan khitanan anak. Padahal maksud masyarakat Subang tidaklah demikian, dengan menggunakan lambang kebesaran negara mereka, kemudian ada seorang anak yang naik di atasnya dengan menjambak rambut sisingaan, merupakan salah bentuk ekspresi kebencian kepada kaum penjajah.

Kesenian Sisingaan Subang

Kesenian sisingaan secara garis besarnya terdiri atas 4 orang pengusung sisingaan, sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra nayaga, dan sinden atau juru kawih.

Secara filosofis 4 orang pengusung sisingaan melambangkan masyarakat pribumi/terjajah/tertindas, sepasang patung sisingaan melambangkan kedua penjajah yakni Belanda dan Inggris, sedangkan penunggang sisingaan melambangkan generasi muda yang nantinya harus mampu mengusir penjajah, nayaga melambangkan masyarakat yang bergembira atau masyarakat yang berjuang dan memberi motivasi/semangat kepada generasi muda untuk dapat mengalahkan serta mengusir penjajah dari daerah mereka.

Pada awal terbentuknya sisingaan tidak seperti sisingaan pada saat sekarang ini, cikal bakal sisingaan sekarang yakni singa abrug. Disebut dengan singa abrug karena patung singa ini dimainkan dengan cara diusung, dan pengusungnya aktif menari, sedangkan singa abrug tersebut digerakkan ke sana kemari seperti hendak diadu. Singa abrug untuk pertama kalinya berkembang di daerah Tambakan, Kecamatan Jalancagak.

Pada zaman dahulu sisingaan atau singa abrug dibuat dengan sangat sederhana. Bagian muka atau kepala sisingaan terbuat dari kayu yang ringan seperti kayu randu atau albasia; rambut terbuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus; badan sisingaan terbuat dari carangka (keranjang atau anyaman bambu) yang besar dan ditutupi dengan karung kadut (karung 9 goni) atau terbuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan; dan untuk usungan sisingaan terbuat dari bambu untuk bisa dipikul oleh 4 orang. Proses pembuatan sisingaan biasanya dilakukan secara bersama-sama, dan gotong royong oleh masyarakat.

Gerakan yang ditampilkan saat pertunjukan pada saat itu adalah tendangan, lompatan, mincid, dan dorong sapi. Busana atau pakaian yang dikenakan oleh pengusung sisingaan pada saat itu adalah kampret, pangsi, iket seperti masyarakat umumnya.

Kalau yang hajatan dari masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, busana yang dikenakan antara lain baju takwa, sinjang lancar, dan iket. Kemudian pada sekitar tahun 1960 an, busana pengusung sisingaan mulai mengalami perkembangan dan penyesuaian, seperti perubahan warna yang mencolok dan bahan pakaian yang cukup baik.

Tradisi yang mulai terpinggirkan: Kesenian Tayub di Tuban

Perkembangan  Kesenian Sisingaan

Pada Juli tahun 1968, kesenian sisingaan mulai dimasukkan unsur ketuk tilu dan silat. Hal ini dapat dilihat dari penggabungan atau kerja sama waditra yakni adanya tambahan dua buah gendang besar (gendang indung), terompet, tiga buah ketuk, dan sebuah kulanter (gendang kecil), bende (gong kecil), serta kecrek. Patung sisingaan pun mulai ada perubahan yang cukup besar dan mendasar.

Penyebutan sisingaan kadang-kadang berbeda di setiap daerah/wilayah. Hal ini disesuaikan dengan yang dilihat dan didengar. Kawasan Subang utara menyebut sisingaan dengan istilah pergosi atau Persatuan Gotong Sisingaan. Kemudian daerah lain menyebut sisingaan dengan istilah odong-odong, citot, kuda depok, kuda ungkleuk, kukudaan, kuda singa, atau singa depok

Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini juga mengalami perkembangan secara keseluruhan, baik dari bentuk patung sisingaan, waditra, busana, dan fungsi sisingaan. Bisa dikatakan bahwa kesenian ini juga bersifat dinamis, mengikuti perkembangan zaman, dan menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Pada awal terbentuknya, kesenian sisingaan terbatas hanya untuk sarana hiburan pada saat anak dikhitan, dengan cara melakukan helaran keliling kampung. Namun pada saat ini kesenian sisingaan mempunyai fungsi yang beragam antara lain untuk prosesi penyambutan tamu terhormat, dengan jalan naik di atas sisingaan. Fungsi lain yakni untuk menyambut atlit yang berhasil memenangi suatu pertandingan, yang bisa ditampilkan secara eksklusifberdasarkan permintaan.

Sumber:

  • T. Dibyo Harsono, SISINGAAN: IDENTITAS SUBANG, BPSNT-Bandung.
Anda telah membaca artikel tentang "Tradisi Kesenian Sisingaan Subang" yang telah dipublikasikan oleh Lentera Budaya. Semoga bermanfaat serta menambah wawasan dan pengetahuan. Terima kasih.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.