3 Masjid Keramat (Lamo) di Kerinci

masjid keramat kerinci

Masyarakat di Kerinci menamai bangunan tua sebagai tempat ibadah umat Islam ini “Masjid Keramat”. Di samping sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tempat berlindung dan benteng pertahanan bagi masyarakat saat melawan Belanda. Masjid ini pun termasuk dalam Benda Cagar Budaya sesuai dengan SK Mendikbud RI.

Masjid Keramat Koto Tuo

Masjid yang sampai saat ini masih berdiri kokoh itu dibangun pertama kali pada tahun 1785, dengan bahan bangunan utama dari kayu pilihan dan konstruksi tanpa memakai paku besi. Untuk menyambung setiap kayu, digunakan paku kayu yang disebut pasak.

masjid keramat koto tuo

Masjid keramat yang pertama berada di Desa Koto Tuo Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau. Jarak tempuh perjalanan menuju Masjid Keramat ini lebih kurang 12 km dari pusat kota Sungai Penuh. Konon, pemberian nama “Keramat” alias “Sakti” berlatar belakang sejarah perjuangan rakyat Pulau Tengah pada awal masuknya pasukan kolonial Belanda ke Kerinci pada tahun 1900. Bangunan masjid yang berdiri di atas lahan seluas 59,2 m x 44,3 m dijadikan tempat berlindung oleh masyarakat dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Masjid Keramat Koto Tuo ini adalah saksi bisu bagaimana semangat heroiknya masyarakat Pulau Tengah menentang penjajahan Belanda.

Ruang utama berbentuk bujur sangkar berukuran 27 x 27 m dan jumlah tiang dalam ruang utama sebanyak 25 buah. Sedangkan bangunan masjid dengan atap tumpang tiga, dan mustaka masjid terbuat dari batu andesit, merupakan perpaduan gaya lokal dengan budaya luar.

Seperti diketahui, model masjid kuno di Indonesia umumnya berasal dari pola bangunan tradisonal Jawa yang disebut pendopo bujur sangkar. Hanya saja lantai dasarnya yang terbuat dari kayu lebih tinggi sedikit, dan inilah yang membedakannya dengan tipe bangunan masjid di Pulau Jawa.

Tipe bangunan atap bertingkat juga ditemui pada masjid di Malabar, India. Bentuk denahnya persegi panjang. Pada setiap tiang dibuat ukiran dengan pola hias spesifik bercorak flora dan fauna. Ukiran-ukiran lokal yang kaya dengan bermacam motif dikombinasikan dengan pola hias kebudayaan Dongson serta pola hias arsitektur Islam klasik.

Berdasarkant surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Sejarah dan Purbakala, masjid keramat ini telah dimasukkan sebagai Benda Sejarah dan Cagar Budaya Nasional. Dengan demikian bentuk bangunan aslinya tidak boleh diubah dan hanya dapat direnovasi dengan tetap mengacu pada bentuk aslinya.

Hal lain yang melatarbelakangi pembangunan Masjid Keramat Koto Tuo ini, pada tahun 1785 ada  aliran Tahariqat Samaniah, yang dipelopori oleh ulama terkenal Kerinci, H. Rahei dan H. Ratih, yang baru pulang menuntut ilmu di Makkah. Kedua ulama ini adalah murid Syaikh Muhammad Saman di Arab Saudi. Berbagai ilmu agama diajarkan kepada murid-muridnya yang menuntut ilmu agama dan mengaji dengan mereka. Hingga kini muridnya tersebar di Kabupaten Kerinci.

Sampai saat ini Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah masih berdiri kokoh dan tetap digunakan sebagai tempat beribadah oleh masyarakat, meskipun telah berdiri masjid yang baru yang dibangun dengan arsitektur modern.

Masjid Keramat Lempur Tengah (Lamo)

Masjid Keramat yang satunya lagi berada di Desa Lempur Tengah Kecamatan Gunung Raya. Masjid ini didirikan di atas lahan berukuran 15 x 13 m dengan luas bangunan 12 x 12 m. Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, masjid ini didirikan sekitar abad ke-15 dan 16 Masehi.

masjid lempur tengah

Konstruksi takik berpasak juga tanpa menggunakan paku besi digunakan pada setiap sambungan kayunya. Arsitek tiang segi delapan dengan motif ukiran flora dan fauna. Setiap hiasan diberi cat warna dasar hitam, kuning, merah, dan hijau. Ventilasi dinding dari kayu gelondongan menjadikan masjid ini sebuah karya seni nenek moyang yang sulit ditiru oleh generasi sekarang.

Ruangan dalam masjid mempunyai lantai dasar dari papan setebal 7 cm. Konstruksi atap tumpang dua dan sebuah mustaka batu endesit bercokol di atas puncak tiang utama. Sama halnya dengan masjid lainnya di Kerinci, di masjid ini juga terdapat sebuah beduk besar yang terbuat dari kayu pilihan, yang dibunyikan di saat datangnya waktu shalat. Juga dibunyikan saat acara besar adat lainnya, seperti acara penobatan penghulu Depati Nenek Mamak dalam acara akbar kenduri sko (perhelatan menegakkan pusaka), ataupun pemberitahuan adanya warga masyarakat yang meninggal. Beduk di Kerinci juga disebut dengan tabuh larangan.


Artikel Khazanah lain yang menarik untuk dibaca:


Masjid Agung Pondok Tinggi

masjid agung pondok tinggi

Di samping itu di Kerinci juga berdiri sebuah masjid tua, yakni Masjid Agung Pondok Tinggi, yang terletak di pusat kota Sungai Penuh. Sama dengan kedua masjid keramat di atas, bahan bangunan utamanya adalah dari kayu tanpa menggunakan paku besi. Masjid Agung Pondok Tinggi sebagai Benda Sejarah dan Cagar Budaya sangat kaya dengan ukiran bermotifkan tradisional Kerinci.

Ketika Kerinci diguncang gempa dahsyat dengan kekuatan 9,5 skala Richter tahun 1995, ketiga masjid tersebut tetap berdiri kokoh. Begitu pula saat gempa tahun 2009 lalu, tak sedikit pun bangunannya yang mengalami kerusakan. Bangunan masjid tua dijadikan sebagai obyek wisata religius bagi masyarakat setempat maupun pendatang dari luar daerah. Kita dapat mengetahui bagaimana sejarah berdirinya bangunan yang arsitek konstruksi bangunan cukup bagus pada zamannya dan juga perkembangan riwayat masuknya syiar agama Islam  di satu daerah tempoe doeloe.

Anda telah membaca artikel tentang "3 Masjid Keramat (Lamo) di Kerinci" yang telah dipublikasikan oleh Lentera Budaya. Semoga bermanfaat serta menambah wawasan dan pengetahuan. Terima kasih.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.